Lagu era 60 – 80 dan cerita opung


Hidup di era teknologi yang semakin canggih, mungkin tak banyak orang seusiaku yang memiliki pikiran atau kebiasaan yang sama denganku.

Usiaku 20 tahun, tengah mengenayam bangku kuliah. Aku tipikal orang yang tidak bisa mengerjakan tugas dengan musik, aku sering membuka youtube dan mendengarkan musik-musik yang aku sukai karena aku orangnya males download hehehe.

Malam ini, aku mencari lagu-lagu jaman dulu era 70-80 dan aku menyukainya. Entahlah, lagu lagu kera 80 kebawah mempunyai melodi khas sendirinya.  Lagu favoriteku adalah Panbers –Gereja tua yang notabene dirilis tahun 60an, dan lagu uci bing slamet – bukit berbunga. Aku menyukai lagu itu sejak kecil, rasanya seperti nostalgia.

Sewaktu kecil, orang rumah sering nyetel DVD lagu-lagu broery marantika, uci bing slamet dan lagu-lagu batak. Dan aku pasti mendengarkannya entah sambil tiduran di sofa ataupun di lantai.

Haahh… saat mendengarkannya kali ini rasanya seperti mengenang opung boru (perempuan) yang telah meninggal sejak aku kelas 2 SD dan opung doli (laki-laki)  yang juga telah meninggal sejak aku kelas 3 SMA. Jadi teringat saat pulang ke kampung halamanku, serbelawan, setengah tahun lalu. aku melihat tumpukan baju-baju –yang bagus pada eranya- di kamar mendiang opungku. Lucu rasanya karena motif-motif baju jaman sekarang malahan mirip dengan punya opungku, hanya potongannya saja yang ketinggalan jaman. Bahkan aku yakin, kalau dipermak sedikit bisa terlihat modern kembali. Sama-sama bercorak ramai dan kebanyakan bunga-bunga, bedanya baju-baju jaman dulu terkesan gelap sedangkan sekarang trend warna-warna pastel cerah.

Aku jadi membayangkan hidup di jaman opungku, dimana belum ada teknologi yang katanya smart tapi mendungui manusia. Dimana segalanya terkesan sederhana dan nyaman, terutama fashion yang nyentrik dengan rambut pendek bergelombang dan rambut klimis yang lucunya juga sekarang malah kembali trend

Biar ku ceritakan sedikit cerita bagaimana kedua opungku bisa menikah, aku baru tau cerita ini dari nantulangku(tante) sewaktu pulang kampung kemarin.

Kalau dihitung-hitung waktu itu sekitar tahun 70/71. Saya akan menceritakan dengan nama asli opung saya, Pieter adalah nama Opung Doli dan Norma adalah nama Opung Boru.

Pieter berasal dari orang kaya, ibu dan ayahnya bekerja di perkebunan kelapa sawit.  Sewaktu itu usia Pieter 19 tahun, ayahnya baru meninggal dan ia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, bagi orang batak anak laki-laki sangat penting karena penerus marga bahkan para mertua akan menyuruh anaknya menceraikan menantunya kalau tidak memberi penerus laki-laki (sekarang udah jarang). Maka dari itu, Pieter disuruh menikah. Namboru Pieter ku memberi tahu Pieter kalau dia punya keponakan perempuan yang cantik bernama Norma dan berniat menjodohkannya. Pieter pun setuju.

Keponakan Namboru Pieter ini kondisinya agak miris. Ibu mereka sudah meninggal sewaktu kecil, meninggalkan anak bungsu yang masih bayi dan ayah mereka menikah dengan perempuan yang kejam karena hanya mementingkan anak kandungnya sendiri, bahkan anak tirinya hanya dikasih sisa sisa makanan dari anak kandungnya. Kalau tidak ada sisa ya tidak makan.

Jadi Pieter dan temannya berangkat untuk menemui Norma menggunakan sepeda motor berwarna merah, waktu itu yang punya sepeda motor hanya orang-orang kaya. Lucunya, waktu itu malam hari dan sempat mogok pulak motor opungku ini hahaha.

Hebohlah satu kampung norma ini karena ada lampu yang menyinari tempat itu –waktu itu belum ada listrik- sampai-sampai semua orang keluar. Disuruh masuk lah si Pieter dan temannya ini, setelah duduk di rumahnya, orang rumah disuruh memanggil norma. Dengan malu-malu Norma keluar, gadis berusia 17 tahun itu teramat cantik. Berpandanganlah mereka dan saling jatuh cinta. Setelah sempat mengobrol akhirnya pulang. Itulah pertemuan pertama yang sederhana.

Pertemuan kedua Pieter langsung melamarnya dan menikahlah mereka dengan pesta yang mewah pada jaman itu, banyak bunga dan para pemain terompet. Bahkan sempat di foto, yang notabene sangat langka ada foto pernikahan jaman dulu.

Ternyata beberapa tahun mereka belum mempunyai anak, sampai ibu Pieter dan saudara-saudaranya menyuruh mencari wanita lain saja. tapi Pieter tidak mau, dia tetap setia. Kira-kira seperti inilah balasannya “Ah, kan kelen yang jodohkan aku sama si Norma kelen juga yang nyuruh aku cerekan dia. Cemananyah.”

Pada tahun 73 lahirlah seorang anak perempuan yang adalah ibuku, dan tahun berikutnya lahir juga seorang anak perempuan. Tapi ibu Pieter masih saja menyuruh mencari wanita lain karena anaknya perempuan terus, baru pada tahun berikutnya lahirlah anak laki-laki yang menjadi cucu kesayangannya.

Begitulah kisah sederhana opungku. Lucunya, setelah Norma meninggal, teman Pieter yang dulu ikut di pertemuan pertamanya dengan Norma masih tanda dengan motor yang mereka gunakan. Kira-kira ia bilang seperti ini “ ini kan kereta(motor) yang dipake pas melamar norma. Mogok pulak waktu itu.” dan tertawalah mereka. Opungku memang tak mau menjual motor itu, mungkin karena kenangannya. Sampai sekarang motornya masih bisa dipakai berhubung opungku tukang bengkel dan menurun ke anak bungsunya.

Begitulah cerita sederhana ini. Haahh… rasanya pengen hidup di jaman itu dimana kondisi nggak sesumpek sekarang. Kalau dipikir-pikir teknologi ini juga nggak seberapa berguna hanya membuat orang malas saja. buktinya, kalau dulu anak SD diberi soal oleh guru jawabanya pasti baca di buku sampai hafal isi buku. Kalau sekarang tingal tanya google terus copy paste bahkan kada tak dibaca.

Beruntung pas nyari di google saya menemukan foto ini,ruko tua di sebelah kanan itu rumah opung saya nama bengkelnya “Bengkel Horas” di serbelawan dan MOTOR BIRU ITU LOH MOTOR YANG DIPAKE OPUNGKU SEWAKTU BERTEMU OPUNG NORMA. Dulu warnanya merah terus di cat warna biru. Sekarang dipake buat ngantar pesanan papan bunga, masih kuat loh.

serbalawan

Dulu pas belum ada listrik, opungku punya genset segede gaban yang kali dinyalain suaranya ribut panget sampe satu gang nggak kedengeran ngomong saking ributnya wkwkk. Nah gensetnya itu ada atas tempat sampah –kalo dari foto- agak nggak keliatan sih.

Rumahnya itu udah tua banget, sebelum opungku tinggal disana ditempatin sama orang belanda. Bahkan orang belanda itu ninggalin meja makan yang kayunya kuat banget sampe sekarang nggak lapuk-lapuk.

Advertisements

2 thoughts on “Lagu era 60 – 80 dan cerita opung

  1. saya hidup di perantauan di pulau JAWA setelah saya membaca ini saya masih ingat wajah opung anda, yg teringat pertama kali adalah nama JOHAN kalau tidak salah. sewaktu saya kecil saya suka kerumah ini terutama di lantai 2 dan halaman belakang hanya melihat begitu banyak nya burung merpati. bercerita tentang rumah ini dulu adalah salah satu rumah termewah, opung anda adalah orang yang baik sekali dan saya masih ingat zaman saya kecil kalau nonton film baru yg dulu nya masih memaki VIDEO VHS pasti di rumah ini dengan tv warnanya yang besar. terimakasih untuk sepenggal memori pengobat rindu di kota dimana saya dulu pernah di besarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s