Pregnant before Marriage


Pregnant before Marriage

Title: Pregnant Before Marriage

Author: Luciferain

Genre: AU, Hurt, Human Life

Length: Oneshoot

Ratting: PG – 15 / NC

Cast:

–      Choi Minho

–      Shin Hyerin

–      Lee Jinki

–      Park Jiyeon

Backsound:

–      SHINee – Kiss Kiss Kiss

–      SNSD – Bad Girl

Ini bukan true story dari Choi Minho ataupun cast yang ada disini. Ini true story dari orang yang Author kenal. Ini ada adegan yadongnya *gak banyak sih dikit aja*  jadi buat yang masih kecil bacanya sambil tutup mata ya (?) Liat ratting OK

HAPPY Reading all :)

~*~

Ku langkahkan kakiku menyusuri lorong lorong kelas, seulas senyum bulan sabit selalu merekah di bibirku setiap berpapasan dengan murid yang berlalu lalang. Sepanjang perjalanan namaku selalu di serukan, dan aku hanya membalas sapaan itu dengan senyum.

Predikat “murid teladan” sudah ku sandang hampir tiga tahun, salah satu penyebabnya karena aku sangat jarang – malah tidak pernah – bermasalah dengan guru.

Terkenal dengan julukan Princess ice karena Tidak banyak bicara, cerdas, menjadi anggota Brilliant Class, berambut coklat panjang dengan Lesung pipi yang menjadi penghias senyumku menjadi daya tarik tinggi pada diriku.

mereka bilang aku terlalu imut menjadi siswa menengah atas. Banyak prestasi yang telah ku raih dalam bidang akademik maupun non akademik. Lalu Siapa yang tidak mengenaliku? Shin Hyerin….

Aku memasuki kelasku, sebelumnya aku berniat untuk menghampiri Jiyeon tapi melihat ia sedang asyik berbicara dengan Jinki, aku pun hanya duduk. Mereka sangat dekat akhir akhir ini T_T

Saat aku melamun menghadap papan tulis, tiba tiba sehelai kertas melayang layang di hadapanku. Segera ku tangkap kertas itu dengan jurus menepuk nyamuk (?).

Saat aku menggenggam kertas itu, seseorang langsung menariknya. Aku menengadahkan kepaku, menatap si empunya tangan. Dia menarik kertasnya lagi, entah kenapa aku pun ikut menarik juga. Sebenarnya ini kertas siapa huh????

“bisa kau lepaskan kertasku?” pinta namja itu dengan suara bariton khasnya

“ne” refleks aku pun melepas kertas itu lalu menatap punggungnya yang berjalan menjauh. Dia Choi Minho, Prince Charming yang dijuluki Flaming Charisma. Menjabat sebagai wakil ketua osis dan captain basket sekolah. Ku akui dia memang tampan >///<

“ Hyerin-ah, kau tahu semalam Onew menyatakan cinta padaku dan aku menerimanya” bisik Jiyeon dengan pipi yang bersemu merah

“ benarkah? Cukkhae Jiyeon-ah” ucapku sembari memeluknya, pantas saja mereka nempel seperti lem akhir akhir ini. “berarti istirahat nanti aku dapat makanan gratis yey” sorakku kemudian.

“enak saja, bayar sendiri” ia memeletkan lidah, membuatku memanyunkan bibir. “kau tahu, Onew itu namjachingu ku yang kesembilan dan sembilan itu biasanya angka keberuntungan” kata jiyeon sumringah

“wow… kau sudah sembillan kali pacaran?” aku menggeleng gelengkan kepala, Jiyeon mengangguk antusias.

“bagaimana denganmu? Kau sudah berapa kali punya namja chingu?”

“tidak pernah” jawabku polos.

“MWO?!!!” tiba tiba seseorang memekik nyaring. Spontan kami menoleh ke sumber suara dan mendapati Luna, Sulli dan Krystal sedang memandang remeh kami. Tiga komplotan centil itu mengerubungi kami disusul para siswi yang penasaran.

“MWO?! Seorang Shin Hyerin gadis yang selalu disanjung para namja TIDAK PERNAH PACARAN?!” seru Luna dengan penekanan di tiga kata terakhir membuat sekelas hening menyimak perkataan dia.

“kau seharusnya malu, adikku saja yang berumur 15 tahun sudah 10 kali pacaran. Kau yang 18 tahun belum pernah? KAMPUNGAN!” cibir Sulli, aku hanya bisa tertunduk menahan malu di tambah lagi parah siswi yang ikut berbisik bisik merendahkanku.

“atau jangan jangan Kau punya kelainan semacam LESBIAN???!!!” sebuah Bogem mentah mendarat di wajah krystal dan itu membuatnya tersungkur. Ku liat Jiyeon yang penuh amarah, gadis cantik itu memang sudah bergelar sabuk hitam karate.

“sekali lagi kau berkata yang tidak tidak tentang Hyerin. Aku tak akan segan untuk merobek kulitmu” ancam Jiyeon dengan deadh glare nya

“Kyaaaaaaaaaaa” tiga komplotan itu berteriak lalu pergi meninggalkan kelas.

~*~

Aku mengetuk ngetukan jemariku di atas meja sambil bertopang dagu dengan tangan yang satunya. Ucapan tiga komlotan itu terus membayangi pikiranku tak peduli sudah berapa kali Jiyeon menyuruhku untuk mengabaikannya.

Di sela lamunanku terdengan bunyi gesekan bangku yang tergeser. Aku mengerjapkan mata, membuyarkan semua lalunan. Tiba tiba terlihat Jiyeon, Onew dan Minho sudah duduk rapi di masing masing sisi meja persegi ku.

“ kenapa kalaian disini?” ucapku dengan tampang tak berdosa.

“kau tidak memperhatikan pelajaran huh? Kita disuruh membuat kelompok untuk melakukan penelitian” sahut Onew, aku hanya menggangguk.

“rabu kita sudah harus mengerjakanya. lalu rumah siapa yang kita gunakan?” tanya Jiyeon. Kami saling tatap, lalu semua pandangan tertuju pada Minho.

“wae?” tanya Minho curiga

“karna Cuma kau yang tinggal sendiri di apartment, dengan begitu kita bisa bebas melakukan apapun tanpa mengganggu sekitar” jawab Onew.

“Arraso!” mau tak mau Minho pun akhirnya setuju. Tanpa ku sadari seulas senyum mengembang ketika aku melihat ia menggerutu kesal, terlihat sangat lucu.

~*~

hari rabu tiba dimana aku, Jiyeon dan Jinki akan mengerjakan tugas. Aku melirik jam yang terpajang di dinding kamarku, setelah tau bahwa sebentar lagi jam 4 aku pun bersiap menuju apartment Minho. Tak terlalu jauh dari apartment ku.

Aku menuruni anak tangga lalu berpamitan dengan Eomma ku yang sedang duduk santai di ruang tamu. Eomma lah orang tuaku satu satunya, Appa telah lama dipanggil Tuhan. Karena itulah aku ingin sekali membanggakan Eomma.

Aku menekan bel di samping pintu apartment Minho, tak lama kemudian pintu itu terbuka dan muncul Minho dibaliknya. Aku tersenyum kearahnya, ia menatapku sebentar lalu mempersilahkanku masuk.

“apa mereka sudah datang?” tanyaku sambil mengekori Minho yang membawaku menuju ruang tamu di apartmentnya

“mereka datang agak telat, mau jalan jalan sebentar katanya” ucap Minho datar.

“huh dasar!” gerutuku, ku lihat Minho berjalan ke arah dapur. Apartment ini memang tidak terlalu luas, jadi semua ruangan dapat terlihat karena tak bersekat.

Minho berjalan kerahku dengan membawakan secangkir teh, aku pun menerimanya dengan senyuman. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya, ingin mengambil sesuatu katanya.

Sepeninggalan Minho, mataku tertuju pada laptop yang bertengger di atas meja. Aku pun membuka Laptop itu, berharap file file tugas lanjutan memang tersimpan disana.

Ternyata laptop itu dalam posisi ‘sleep’ dan ketika aku mengklik usernya aku benar benar tak percaya dengan apa yang ku lihat. Mataku kontan membulat ketika aku membuka windows yang ter ‘minimize’. Sebuah Video tabu tersapu penglihatanku.

Dalam video itu terlihat jelas sepasang manusia sedang bercinta tanpa mengenakan sehelai kain pun. Ingin berpaling, tapi entak kenapa ragaku seakan kelu apalagi mendengan desahan seduktif dari video itu membuat sekujur tubuhku merinding.

Keringat menetes di pelipisku, desahan itu menjadi melody setan yang membuatku bergetar. Tubuhku seakan terangsang.

“kau menikmatinya?” hampir aku melompat sangkin kagetnya, ku lihat Minho yang duduk sampingku sambil tersenyum miring padaku.

“mwo?” aku benar benar kaget, tak tau harus berbicara apa. Malu, ngeri dan takut berbaur dalam emosiku dan semuanya seakan mengunci gerakan pikiranku.

“kau menyukainya bukan?” Aku bergidik ngeri saat flaming charisma berkobar dalam mata hitam Minho. tiba tiba Minho mendekatkan wajahnya ke wajahku, membuatku refleks memundurkan wajah.

“ka… kau kenapa bisa menyimpan video itu?” tanyaku gugup.

“karena aku ingin melakukanya” bisikan itu membuatku merinding, serasa ingin menangis namun tatapan minho seakan menahlukanku. Membuatku terus menatapnya…

“ku dengar kau belum pernah pacaran? Kau tahu, sebenarnya kau bisa mendapatkan hal yang lebih di bandingkan dengan ucapan mereka”

Minho semakin mendekatkan wajahnya, ia berbisik dengan lantunan nada iblis bertujuan untuk merayuku agar memasuki lingkaran setan yang tertutupi malaikat.

sangkin gugupnya aku pun hanya bisa memejamkan mata. Ingin lari tapi rasa ingin tahu lebih mendominasi, terbayang bayang akan cibiran yang kuterima beberapa hari yang lalu. Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.

Ku intip dengan sebelah mata ternyata bibirku dan bibir Minho telah menyatu. Ia melumat bibirku lembut semakin lama aku dibuat terbuai olehnya. Lama kelamaan lumatan lembutnya mengganas, ia lalu menghisapnya dan menggigit bibir bawahku, membuatku mau tak mau membuka mulut.

Terasa sesuatu yang asing memasuki rongga mulutku, dan ternyata lidah Minho telah menari nari disana. Ia menekan tengukku untuk memperdalam ciumanya membuatku semakin menikmati permainanya, semakin menjeratku yang tak tahu apa apa.

Sadar akan sesuatu aku menarik wajahku “bagaimana dengan Jinki dan jiyeon?” tanyaku dengan pipi yang bersemu merah.

“mereka tidak datang, terjebak hujan” Minho menatapku sebentar, ia kemudian melanjutkan ciumanya dan kelamaan ciuman itu menjalar ke leherku. Entah siapa yang memulai duluan, yang jelas kami menginginkan space yang lebih besar untuk melakukannya.

~*~

Author P.O.V

Cahaya matahari pagi menembus tirai tirai putih di sebuah ruangan, membuat ruangan yang tadinya remang karena hanya diterangi lampu tidur menjadi lebih bercahaya.

Seorang gadis menggeliat kecil di atas tempat tidur, tapi sepertinya ia tak memiliki banyak ruang untuk melakukan perenggangan. Seperti ada yang melingkari tubuhnya, membatasi ruang geraknya.

Merasa janggal gadis itu membuka matanya perlahan, terasa berat namun ia dapat melihat seorang namja tengah memeluknya. Gadis itu mengerjapkan matanya, pandanganya menyusuri sekeliling.

Seketika jantungnya berdebar sangat cepat menyadari kenyataan bahwa ia sedang tidur dengan seorang namja tanpa mengenakan sehelai kainpun. Terputar ulang kejadian semalam, dimana ia telah terperangkap dalam ilusi surga yang disuguhi Minho.

Hyerin menegakkan punggungnya, ia ingin beranjak namun Minho lebih dulu menahan tanganya. Minho menarik Hyerin kedalam pelukanya, mengusap pelan rambut panjang gadis itu.

“apa ini tidak apa apa?” tanya Hyerin, nadanya bergetar menahan tangis.

“semua akan baik baik saja, percayalah padaku” semua penentangan dalam diri Hyerin hilang begitu tersuguhi senyum lembut Minho.

“aku takut”

“Hyerin-ah, Jeongmal saranghae~” bisik Minho lalu mengecup bibir hyerin.

Author P.O.V END

~*~

“Hyerin-ah. Bagaimana tugas kita semalam” seru Jiyeon yang berdiri di ambang pintu, ia pun langsung berlari ke arah mejaku disusul jinki yang mengikutinya dengan santai.

“kami tidak mengerjakanya, Hyerin langsung pulang semalam” saat aku hendak menjawab, Minho menyela lebih dulu. Akupun menatapnya, lalu membuang muka saat ia menatapku. Sangat malu bila mengingat kejadian semalam.

“jeongmal? Berarti kita harus mengerjakanya lagi. Bagaimana kalau besok?” tanya jiyeon semua menggangguk setuju

Tiba tiba seperti ada yang menyenggol pudakku membuatku terhuyung kebelakang. Aku mendelik kesal ke arah 3 komlplotan yang sengaja menyenggolku. Mereka sangat menyebalkan

“hai princess ice, belum punya pacar juga ya hahahahaha kasihan” cibir Sulli yang diikuti tawa setan dari Krystal. Mereka pun pergi setelah menjelek jelekanku.

“kau mempunyai pengalaman lebih Hyerin-ah” bisikan minho membuatku semakin mempertegas tatapan pada mereka.

~*~

Keesokan harinya akupun pergi ke apartmen Minho. Jantungku berdebar agak kencang ketika Minho membuka pintunya. Kejadian malam itu terputar ulang dalam benakku. Berbeda dengan hari kemarin, jinki dan Jiyeon telah datang lebih dulu.

“lalu dari mana kita memulainya?” Jinki membuka pembicaraan dan kami mulai mengerjakan tugas. Aku seperti biasa lebihsuka berbuat dari pada berbicara. Minho, ia memang terkenal cerdas dalam menyususn strategi suatu hal, hanya Jiyeon dan Jinkilah yang meramaikan Apartment Minho dengan celotehan mereka.

Waktu semakin berlalu, kini matahari telah berganti shift dengan bulan. Tersisa beberapa tugas lagi yang belum terselesaikan. Pekerjaan ini memang menguras otak dan tenaga.

“aku harus pulang, Appa dan Eomma pasti mencariku” tutur Jiyeon, ia melirik jinki “ antarkan aku ya” pintanya dengan raut wajah memelas

“tapi tugas kita belum selesai” tolak Jinki

“ayolah kan masih ada Minho, lagipula bukankah Eomma Hyerin sering keluar kota?”

“ne, kalian pergi saja. Eomma ku memang sedang di luar kota, jadi aku tak masalah pulang malam” ucapku.

Kini, hanya aku dan Minho yang mengerjakan tugas ini. Terasa amat kaku ketika keheningan menghantui kami. Kejadian semalam benar benar menghantui piranku, terngiang akan desahan dari bibirku dan Minho membuatku ingin mengulang kejadian malam itu lagi.

“selesai, baiklah aku harus pulang” seruku sambil merenggangkan tangan dan leher. Diam diam aku mencoba membuang pikiran negatif yang semakin lama semakin bersarang di otakku.

Saat aku hendak bangkit berdiri, Minho menahan pergelangan tanganku. Ia mengisyaratkanku agar kembali duduk di sofa dan akupun menurut.

“berbahaya jika seorang gadis sendirian malam malam” aku menautkan alis, menatap heran pada Minho “Menginaplah disini, kita akan mengulang kejadian indah semalam”

Bisikan itu menjeratku kembali. Tanpa aba aba Minho langsung melumat bibirku, tangan kirinya menekan tengukku untuk memperdalam ciuman kami. Tangan kananya sudah bergerak liar menyentuh titik rangsanganku.

Ingin berlari namun raga ini terlanjur menikmati perlakuan surga dunia yang sebenarnya adalah surga semu. Surga yang berawal dari sebuah sugesti setan Dimana kita akan menemukan neraka ketika surga semu itu menjauh.

~*~

Beginilah aku sekarang, begitu mencandui seorang Choi Minho. Di setiap gerakanya selalu ingin ku amati, setiap pancaran matanya selalu ingin ku tatapi dan di setiap senyumanya selalu ingin ku rasai. Aku benar benar menginginkan seorang Choi Minho. Kafein ini telah melewati ambang batas

Kejadian malam itu benar benar menjadi candu bagiku. Dalam enam bulan terkhir terhitung aku sudah beberapa kali melakukanya dengan Minho. Aku tau perbuatan kami salah, tapi dia membuatku sakau jika terlalu lama merindukan sentuhanya di tubuhku

Ujian akhir sekolah akan tiba sebentar lagi, membuat kesibukan kami semakin membludak. Minho sudah lepas dari jabatanya 5 bulan lalu, digantikan sama adik kelas yang sepadan denganya. Kesibukanya juga membuat ia jarang latihan basket dan merelakan gelar Captain-nya diganti.

“hyerin-ah. Kau akan kulian dimana nanti?” tanya Jiyeon, kini kami sedang di cafetaria sekolah. Sekedar membeli makanan ringan.

“aku ingin di daerah sini saja, tak mau meninggalkan Eomma” jawabku

“jeongmal? Kita sama. Aku kuliah di sini juga” ucap Jiyeon antusias, kami pun melakukan high five. Entah kenapa tiba tiba pusing langsung menyerangku, perutku serasa diaduk aduk tak karuan membuatku mual.

Aku berlari dari cafetaria menuju toilet, sesampainya disana langsung ku muntahkan cairan di westafell. Akhir akhir ini aku menjadi sering mual dan tidak enak badan, entahlah mungkin hanya masuk angin biasa.

~*~

Bel pulang menggema, aku pun bergegas measukkan peralatan sekolah ku ke dalam tas. Menjelang ujian akhir pelajaran semakin menguras otak, tanpa menyisakan waktu sedikitpun untuk mencandu kafeinku, Choi Minho.

Ku tatap punggung Minho yang berjalan ke luar kelas, akhir akhir ini aku jarang berbicara denganya, mungkin karena aku dan dia terlalu sibuk mengurusi urusan masing masing.

Seperti biasa aku pulang menaiki bus, aku pun menunggu di halte yang terletak di samping gedung sekolah. Tak lama kemudia bus berwarna putih hijau berhenti di depan halte. Bergegas aku menaiki bus itu untuk mendapatkan posisi yang aku inginkan.

Deretan tengah sepertinya adalah pilihan yang tepat, mengingat akhir akhir ini kondisiku sangat sensitif. Biasanya orang yang mabuk darat pasti akan memilih posisi di tengah karena tidak terkena bantingan ketika bus berbelok.

Aku menyandarkan punggungku di bangku bus, namun aku sedikit terusik dengan kebisingan yang timbul dari ibu ibu yang duduk di belakangku. Sedang apa sih mereka? Membicarakan kreditan panci? Atau mengomel karena harga cabai naik? -_____-

Samar samar pembicaran ibu ibu itu dapat ku tangkap dengan jelas.

“kalian tahu, Taeyon anak keluarga Lee sudah hamil 5 bulan” seru seorang ibu. Huuu…. Dasar ibu ibu penggosip, gerutuku dalam hati. Mau tak mau akupun mendengar pembicaraan mereka

“astaga, bukankah ia baru masuk kuliah?” seru ibu ibu lainya

“pantas saja kata anakku dia sering mual mual dan sakit. wajahnya sering pucat juga”

“memalukan saja, padahal ku kira dia anak yang baik”

Pembicaraan para ahjuma itu membuatku merinding. Aku menggeleng gelengkan kepalaku, memberi sugesti untuk membuyarkan segala pikiran negatif yang sempat tertulis dalam pikiranku.

Aku memejamkan mata, mencoba menjernihkan pikiran dan kembali fokus memikirkan kegiatan apa yang akan ku lakukan selanjutnya.

~*~

Ujian akhir terlah berlalu dan kini murid kelas 3 sedang gencar gencarnya mencari unniversitas yang mereka inginkan. Aku tak perlu repot repot mencari karena aku sudah memutuskan untuk tetap bersama eomma.

Akhir akhir ini selera makanku menurun drastis, wajahku sering terlihat pucat sampai aku repot untuk menutupinya agar tak ketahuan Eomma. Di tambah lagi rasa mual yang kini datang dengan ganasnya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin wastafell, terlihat pucat dan amburadul. Ku rapikan jumputan poni yang acak acakan lalu kembali ku basuh wajahku.

Teringat akan ucapan ahjuma di bus sebulan lalu, ucapan itu terus membayangiku. Aku baru sadar bahwa selama aku bermalam dengan Minho, ia tak pernah memakai pengaman.

Dan yang bodohnya lagi sudah beberapa bulan ini ‘tamu bulanan‘ ku tak kunjung datang. Tubuhku bergetar memikirkan semua ini. Sangat membuatku cemas.

Nekat, akupun membayar seorang pegawai apartment untuk membeli dua buah tespack. Rasa penasaran berbaur dengan rasa takut dan cemas menanti hasil yang akan di perlihatkan tespack itu. otakku sudah lupuh untuk berfikir.

Mataku membulat lebar ketika terpampang dua garis merah di tespack itu. keduanya sama sama menunjukan hasil positif….

Itu artinya aku…

Aku menghentakkan punggung di dinding kamar mandi, lalu merosot sampai menghentak lantai. Membiarkan bulir bulir air yang turun dari shower mebasahiku.

“Aaaaaaaaaaa!!!!!” teriakku dalam guyuran air. Apa yang akan ku lakukan setelah ini? Bagaimana dengan Eomma? Aku mengacak acak rambut frustasi lalu menangis dengan tangan gemetar menggenggam tespack itu.

~*~

Aku mengikuti langkah Minho tanpa ia sadari, sudah ku duga ia pasti sedang bermain basket dengan teman temanya. Ya, kini kami sudah terstempeli cap yang bertuliskan ‘ALUMNI’

Minho berjalan memasuki ruang ganti pria. Aku berhenti mengekorinya, sedikit membuka pintu ruang itu, setelah memastikan bahwa hanya Minho yang ada di sana, aku pun memberanikan diri untuk masuk.

“kau? Sedang  apa?” tanya Minho setelah ia membalikkan badan menghadapku ketika ia menyadari bunyi langkah kakiku.

Minho sedikit menyernyitkan dahi menatapku. Mungkin dia heran kenapa penampilanku yang biasanya cantik berubah drastis menjadi acak akan dengan lingkaran hitam di daerah mata yang terlihat jelas.

“Minho-ya. Kau mencintaiku bukan?” tanyaku dingin sambil menatapnya nanar.

“mwo?” dia semakin heran. Aku berjalan mendekat, mencengkram pergelangan tanganya.

“katakan kalau kau mencintaiku! Katakan!….. Aku hamil Minho!” akhirnya airmataku keluar, menciptakan jalur sendiri di pipi pucatku.

Minho terlihat syok atas apa yang kuungkapkan, tapi itulah kenyataanya. Aku mengguncang guncangkan tubuh minho, tatapanya kosong ia diam tak bergeming. Segelintir firasat buruk menyusup di sela pikiranku

“Minho-ya kau akan bertanggung jawab bukan? Kau mencintaiku kan?”

“gugurkan saja” ucapan Minho benar benar menohok perasaanku, segampang itukah ia berbicara.

“katakan kau mencintaiku” aku memukul mukul bahu Minho, tapi ia langsung menepisnya. Ia menggenggam pergelangan tanganku, seperti memborgolku.

“dengar baik baik Shin Hyerin! aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai tubuhmu. Terserah mau kau apakan kandunganmu, aku tidak peduli!”

Minho mendorongku, kemudian ia berlalu meninggalkanku yang hanya sanggup terduduk di lantai. Jadi selama ini hanya kepalsuan yang ia berikan? Bodoh sekali kau Shin Hyerin, kenapa kau tak pernah sadar bahwa Minho hanya memperdayaimu.

“aaaaaa!!!!” aku berteriak, sambil memukul mukul perutkusendiri. Apa yang harus ku lakukan? Terlintas wajah Eomma yang sedang tersenyum, tak bisa ku bayangkan kalau senyuman itu nantinya berubah menjadi kepiluan. Maafkan aku, Eomma….

~*~

Sesampainya di apartment aku langsung mengurung diri di kamar, ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tatapanku kosong menerawang ke arah langit langit kamar. Air mataku terjatuh dengan sendirinya dari kedua sudut mataku. Mungkin mereka akan mengering dengan sendirinya

Drtttt….. drtttttt…. Hapeku bergetar panjang pertanda ada panggilan masuk. Ku tatap layar ponsel, nomor yang tidak dikenal tapi sepertinya karena baru ku cek sudah 9 kali panggilan itu masuk.

“yoboseyo….”

“apakah anda Shin Hyerin?” tanya seseorang di seberang sana

“ne….”

“Shin  Hyerin-ssi. Ibu anda sedang dalam oprasi karena kecelakaan”

“mwo???” air mataku kembali turun, apakah aku tidak salah dengar?

“dimohon datang di jinhwa Hospital secepatnya”

Tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan apartment, segera ku hentikan taxi untuk mengantarku ke rumah sakit dimana Eomma dirawat. 15 menit kemudian aku tiba disana, ketika aku melangkah masuk firasatku benar benar tidak enak. Seuatu hal buruk akan terjadi.

“dimana Shin hyena dirawat?” tanyaku pada resepsionis rumah sakit.

“di ruang operasi lantai 3” buru buru aku berlari menuju lift. Tak lama kemudian lift itu terbuka, segera aku berlari ke ruang operasi yang terletak di ujung lorong.

Sesampainya disana tiba tiba pintu ruang Operasi terbuka, terlihat beberapa orang suster sedang membawa pasien yang wajahnya tertutupi kain putih pertanda ia telah berpulang ke rumah tuhan.

Tubuhku bergetar hebat aku sudah tak sanggup untuk mencerna semua ini “EOMMAAAAA…..!!!!” teriakku dalam keheningan yang melarutkan kepedulian.

~*~

Gundukan tanah merah yang masih lembab itu terus kutatapi sejak tadi, aku sudah tak sanggup untuk menangis. Terlalu lelah, lagipula kasihan dengan calon kehidupan dalam kandunganku.

Satu persatu para pelayat pulang meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Eomma. Sedangkan aku masih terdiam disini menatapi gundukan tanah itu dengan mata yang sembab dan wajah yang semakin memucat.

“Eomma, apa yang harus ku lakukan? Aku tak punya siapa siapa lagi disini” lirihku dengan suara serak

“kau masih punya aku” aku menoleh ke belakang, mendapati Minho dengan busana hitamnya sedang berdiri di belakangku.

“mau apa kau?” tukasku ketus

“Hyerin-ah, kau tahu kita sama sama sebatang kara. Orang tuaku telah meninggal 3 tahun lalu dan aku hanya mengandalkan warissan. Jadilah istriku, dengan begitu kita tidak sendiri lagi”

“apa?! Bukankah kau menyuruhku untuk menggugurkan bayi ini?” ucapku penuh emosi dan penekanan

“ayolah Hyerin, aku sedang panik saat itu. menikahlah denganku” terpancar kesungguhan dari sorot mata Minho, namun aku tak mau tertipu lagi dengan segala sugesti yang ia berikan

“kau mengasihaniku huh?”

“Jeongmal Mianhae…. Aku akan belajar mencintaimu” Minho melingkarkan kedua tanganya di leherku, memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya di pundaku “Jeongmal Mianhae…” lirihnya

~*~

Pernikahanku dan Minho berlangsung dengan amat sederhana. Semua dibuat syok dengan berita pernikahan kami apalagi mendapati kenyataan bahwa aku tengah hamil 5 bulan.

Jiyeon dan jinki sangat kaget. Awalnya Jiyeon marah, namun setelah melihat kandunganku yang semakin membesar hatinya luluh juga. Ia turut mendoakan calon bayiku agar kehidupanya kelak akan menjadi lebih baik. Aku tahu Jiyeon memang sahabat yang paling mengerti keadaanku.

Berita kehamilanku sudah menyebar ke antero –mantan- SMA ku dan Unniversitas baruku, terpaksa aku mengambil cuty kegiatan kuliah karena kondisiku saat ini.

Perasaan malu selalu mendominasi ketika tatapan yang merendahkanku datang. Aku yakin 3 komplotan serangkai yang –sialnya satu unniversitas denganku- , menjelek jelekanku. Mereka pasti sangan senang dengan berita kehancuranku tapi tidak dengan Pangeranya Minho yang sudah menjadi milikku sepenuhnya.

Ketika aku mengambil Ijasah ke sekolah tatapan sinis dan meremehkan menghujaniku. Aku benar benar tertunduk malu, apalagi ketika berhadapan dengan wali kelasku dulu.

“Shin hyerin, aku benar benar tidak menyangka kau menikah secepat ini. Padahal kau baru tamat SMA dan mempunyai predikat sebagai murid teladan dulu” tutur wali kelasku, semakin membuatku terpojok.

“padahal kau dulu cerdas. Aku tak menyangka orang pendiam sepertimu bisaaa….”

Sebelum Jung seongsaenim menyelesaikan kalimatnya, aku menyela lebih dulu “ kamsahamnida Seongsaenim, tapi semua bisa berubah. Dunia tak kan pekaernah datar” ucapku tegas. Raut kekagetan terpeta di wajag Jung Seongsaenim

sebelumnya aku adalah murid penurut, tak pernah membantah, itulah mengapa Seongsaenim terlihat kaget ketika aku berani menyela kalimmatnya.

Bergegas aku pergi meninggalkan ruang guru sebelum mendengarkan kalimat yang tidak tidak dari Jung seongsaenim atau bahkan guru guru yang lain mau ikut menghakimiku juga

~*~

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, sama sekali tak terlihat dimana Minho berada. Sejenak aku berfikir, mengingat kebiasaanya dulu. Lalu suatu tempat terbayang. Lapangan basket, dia pasti ada di sana!

Aku menyusuri koridor lalu berjalan menuju lapangan basket, benar saja terlihat Minho sedang memantul mantukan bola oranye itu dengan semangat. ia sedang bermain dengan junior junior maupun senior setimnya dulu.

Tiba tiba suasana menjadi hening ketika mereka menyadari keberadaanku. terdengan siulan siulan nakal dan tawa cekikikan yang diarahkan pada Minho. Aku memicingkan mata, bingung dengan sikap mereka.

“jemput  istrimu Choi Minho, kami Ingin melihatnya dari dekat!” titah seseorang, beberapa  orang mendorong dorong Minho. Memintanya untuk mengikuti perintah tadi.

Minho menggerutu kesal masih terlihat lucu seperti dulu, memaksaku untuk menyunggingkan seulas senyum padanya. Terlebih lagi ketika Minho berjalan mendekat ke arahku.

Kenapa jantung ini masih saja berdebar sangat kencang ketika Minho mendekatiku?

“naiklah” katanya

Aku mencoba menaiki lapangan basket yang berada lebih tinggi dari tatah yang ku injak sekarang. Dulu aku bisa sesuaka hati naik maupun melompat dari lapangan ini, tapi dengan kondisi perutku yang besar membuatku tidak seleluasa dulu.

“tolong aku, jebal-“

Minho mengulurkan tanganya, dan tanpa berfikir panjang aku langsung menyambutnya dengan senuh hati. Minho menarikku dengan lembut sehingga aku bisa menaiki lapangan basket itu.

Terdengar sorak sorai heboh dari teman teman club basket, di tambah dengan siulan nakal yang membuat pipiku memerah. Minho mengeratkan genggaman tanganya lalu menuntunku ketempat teman temanya berada.

Selama Minho di sampingku aku tak kan malu dengan kondisiku. Setiap ia mengulurkan tanganya seperti menjadi obat penghilang segala kepiuan yang menohokku.

Dan aku akan selalu menerima uluran tangan Minho tanpa memperdulikan segala kecaman di sekitar genggaman tangan kamI, genggaman kami akan semakin mengerat seiring dengan berjalanya  waktu. Sejak dulu aku yakin suatu saat kisahini akan berakhir dengan HAPPY ENDING

Closing Quote:

Orang yang pendiam biasanya lebih berbahaya dari pada orang yang aktif berbicara, karena kemungkinan mereka diam karena menyimpan suatu rahasia

( kalo quotenya gak nyambung, di sambung sambungin aja ya, kan Indonesia sambung menyambung menjadi satu #tambahnggaknyambung )

__ END__

HUAAAAAAA….. Kenapa Minho adi aneh di sini? *ditimpuk Flames* jeongmal Mianhaeyo *bungkuk bungkuk* sepertinya ini Cerpen sinetron gagal *nangis*

Maaf ya kalo banyak Typo soalnya ff ini dibuat 3 jam pas curi curi waktu buat belajar UTS, jadi nggak MAXIMAL Hehe #anakbandel. Maap juga kalo banyak diksi diksi gaje, dan ada aja komedinya tak pedulu genre apapun iu # apadah itu memang gaya penulisan aku. Jadi maaf kalo aneh.

Ini benar benar dari KISAH NYATA dengan pengeditan tentinya, kan nggak mungkin aku tahu secara mendetial, masa ia aku neropong ke rumahnya ntar di sangka maling atau orang gila lagi LOL. YANG JELAS INTI CERITANYA SAMA.

Cheers,

Luciferain / aya

Advertisements

19 thoughts on “Pregnant before Marriage

  1. akhirnya ngepost ff juga ni… udah ku nanti2 loh…hehehehe
    ff nya bagus, kukira ni bakal sad ending tapi ternyata tidak…..pokoknya ceritanya bagus deh….
    smangat buat UTS nya chingu….
    *bowbarengjjong*

  2. Mian banget.. Bru bisa comment..

    Mian.. Mian..
    Seperti biasa, inetku lolanya minta ampun.. Zzzzz

    Setuju!!
    Iya bener… Endingnya so sweet… Aku setuju….
    Awalnya aku udh umpat2in minho oppa berbagai macem.. Tpi tak jadi krna endingnya so sweet…>.<

    Aku tunggu selanjutnya.. Semangat!!! Hwaiting.. ^^9

  3. kisah nyata yahh ???haishhh untung minho tanggung jawab …

    gk kebayang klo kuliah tp uda married n pnya anakk … untung hyerin pinter …

    inii kisah na tmn author ato bkn ??? semogaa bayi na bsajadi orng yg bertanggung jawab jugaa … hehehhehe

  4. gha bosan akk bca ni ff…
    awalnya akk bca di ff ini d ff indo 😀

    yah perbuatan kek gthu mah emng bnyak, syukuur banget minho mw tanggung jwab, klo gha…
    kasian sma dede nya,, 😀

    hehehe

    chingu2… klo smpett lnjtin k squelnya doong, pensaran gmna pas dede nya lahiran…
    hehehe
    eh emng ecek2 nya y minho gha pnya tante gthu y.. wkwkwk *plak
    mian y bnyak omong.. kkk

  5. Annyeong.. Aku reader baru 😀
    pertama kali kesanny ke Minho: Jahat! Kasian kan hyerin, ud hamil duluan tp masak minho g mau tanggung jawab T.T
    tp untung aja happy ending, kalo gak gantung author (mian thor cuma b’canda)
    dtunggu karya selanjutny :-))

  6. zzzzzzhh… setuju emang orang pendiem itu kadang lebih nyeremin (?) aslinyaaa >,<
    malang bgt Hyerin lagi kena musibah hamil di luar nikah, eh ibunya juga meninggal. tapi masih untung Minho mau tanggung jawab yaaa, mana ganteng lagi. haha 😀
    nice fic kak ^^
    semangat terussss,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s