ONESHOOT: I’m (not) Perfect


I’m (not) Perfect

Title: I’m (not) perfect

Author: LucifeRain

Genre: romance – comedy. Teenager life

Main Cast:

Choi Minho

Cho Minhye

Note: don’t like, don’t read! Happy reading all \(^_^)/

***

Pergunakanlah kelebihanmu untuk melengkapi kekurangan orang lain

walaupun dari 100% kau hanya mempunyai 10% kelebihan

~*~

Aku menyapukan pandangan ke sekeliling, sejurus kemudian ku lirik sebuah jam ungu berbentuk persegi di pergelangan tangan kananku lalu ku amati lagi sekeliling.

“jam tujuh, tapi masih sepi” gumanku sambil menyatukan kedua alisku “ah . . mungkin karena hujan”

Aku berjalan mendekati tiang penyanggah lorong di depan kelas. Sesampainya disana, aku langsung bersandar di tiang penyanggah itu..

panorama langit biru yang tertutupi awan gelap terlukis di kedua bola mataku, tak henti hentinya ku amati jutaan rinai hujan yang dengan riangnya turun membasahi bumi pertiwi. Ku ulurkan tanganku sembari merasakan dinginya tetesan air yang menghujam telapak tangan putih nan mungil miliku

tiba – tiba terlihat uluran tangan lain di sebelah telapak tanganku, Spontan bola mataku berjalan menatap si empunya tangan itu. aku tersentak kecil saat menyadari si empunya tangan adalah seorang cowok yang terikat status khusus denganku.

“hujan ya?” tanyanya yang dengan mimik serius menatap langit

“pabboya! Sudah tahu rintikan air jatuh di telapak tanganya, apalagi namanya kalau bukan hujan?” aku menggerutu dalam hati

“aku tahu aku ini tampan. Tapi bisakah kau sedikit lebih santai menatapku?” tanyanya dengan mata yang masih asyik menatap panorama langit di hadapanya. Tanpa ku sadari seulas senyum mencuri untuk di tampilkan.

“hei, aku tau kau tersenyum” dia tersenyum kecil lalu mengambil posisi di depanku. Tiba tiba dia merentangkan tangan kananya dan menyentuh dinding belkangku, tangan kirinya di masukkan ke saku celananya. Dengan sedikit membungkuk, dia mensejajari tatapanku yang tak berjeda itu. arghh! Seandainya kau tau betapa susahnya melawan kegugupan sendiri!

Mataku tertumpu pada satu titik di mana dua buah mutiara hitam memantulkan bayanganku. Memandang bola mata itu seperti ada ketenangan abadi di dalamnya. Sial! Kenapa sihir di matanya selalu sempurna menghipnotisku?

Dia mengerutkan dahi, sepertinya bingung denganku yang mematung sejak kami berhadapan “pipimu merah tuh” godanya sambil tersenyum jahil.

Degh! Jantungku seperti akan lompat saat dia mengusap pelan puncak kepalaku.

“aktingmu selalu sempurna” katanya sambil menegakkan punggung

Seulas senyum mengembang di bibirku. Senang rasanya mendapatkan perlakuan hangat di pagi yang dingin

Namaku Cho Minhye, seorang gadis biasa yang tak banyak bicara dan menggilai sastra dan mereka bilang aku kutu buku. aku adalah gadis kelas 2 SMA bertubuh mungil yang mempunyai tinggi hanya sekitar 145cm dengan rambut panjang yang menggulung gulung di ujungnya banyak orang mengiraku siswa SMP bahkan SD karena penampilanku yang terlalu mungil dan imut –mungkin-.

Jujur, aku menjadi minder ketika aku berjalan di kerumunan orang karena aku akan merasa bahwa aku adalah orang terkecil sedangkan mereka adalah raksasa yang siap menerkamku.

Aku merasa di saat aku berjalan banyak orang yang mengucilkan fisik ku, apalagi ketika aku berjalan bersama Minho, seorang Namja yang fisiknya berbanding terbalik denganku

Choi Minho adalah namja yang terikat status khusus denganku. catat! Cuma status. Tingginya sekitar 183cm. bertubuh atletis dan berotot, apalagi saat materi olahraga adalah berenang, otot Six packnya terlihat menggoda dan sukses membuat yeoja klepek klepek bak ikan mujair. Kulitnya agak coklat, alis tebal, hidung mancung, mata yang hilang kalau dia lagi tertawa (agak sipit maksudnya) dan mereka bilang dia itu mirip Choi Minho SHINee, Itu lho aktor korea idolanya penulis hihihi (?)

180 derajat berbanding terbalik denganku, bukan?. Itulah kenapa aku minder jika aku berjalan di sampingnya. Dia seperti menara sutet, sedangkan aku Cuma tiang listrik. Dia seperti kapal Titanic di samudra, sedangkan aku Cuma bebek karet di bak mandi. Jauh banget lah pokoknya.

Aku benci mendengar tatapan aneh, bisik bisik yang mengucilkanku dan celetukan jahil jika aku beriringan deganya. Sepertiii

“Ommo! Yeoja itu terlalu kecil untuk namja atletis itu”

“yang satu monas, yang satu patung selamat datang hahahah”

“yang satu ikan paus, yang satu ikan cupang”

“cowoknya kayak Taylor Launter, lha? Ceweknya sebelas duablas sama Mpok Nori hahha”

Huaaaaaaaaaaa!!! Mereka tega… Srooootttt *buangingus

Dasar Minho pabbo!!! Kenapa harus aku yang kau pilih sebagai penyempurna status palsumu?

Seandainya kejadian ini tak pernah terjadi

–Flashback—

Minho baru saja selesai melaksanakan tugas yang membuat orang di sekitarnya bangga. Bagaimana tidak? Ia adalah Purna Paskibraka tingkat Nasional dan baru saja mengibar di istana negara pada 17 agustus kemarin. Bukan sembarang orang yang bisa mendapatkan posisi itu, hanya orang tertentu yang mempunyai kesempurnaan fisik dan gerakan PBB level tinggi yang berhak mendapatkan posisi tersebut, karena merekalah yang mewakili provinsi masing masing. Hebatnya lagi, hanya ada 1 putra dan 1 putri yang mewakili setiap provinsi.

Bayangkan betapa susahnya saat proses penyeleksian dan istimewanya posisi yang di dapatkan Minho itu

Semenjak peristiwa pengibaran itu, Miinho selalu di kelilingi stalker beratnya. Hampir setiap saat dirinya bak artis yang sedang konfrensi pers. Kesempurnaan fisik yang dimilikinya seperti magnet yang menarik para yeoja untuk selalu mengikutinya.

aku menyeruput fruit punch yang sudah hampir habis sambil sesekali mengaduk dengan sedotan. setelah puas, aku pun beranjak dari bangku cafetaria menuju pintu keluar. Langkahku terhenti ketika melihat segerombolan yeoja yang sedang asyik mengerumuni seorang namja tepat di depan pintu cafetaria.

Bel pertanda masuk berbunyi, dan itu artinya jam ini adalah pelajaran Miss. Betti Lavea guru bahasa Jerman terkiler sesekolahan. Telat semenit saja bisa di hukum lompat sadako keliling lapangan yang luasnya minta ampun.

Oh…Tuhan, Bagaimana aku bisa keluar kalau tubuh mereka seperti raksasa?

Degan ragu, kulangkahkan kakiku sambil memanjatkan doa agar aku bisa menerobos segerombolan ikan salmon itu (?)

Aku pun menyusup si antara orang orang itu, sesekali aku terdorong dan  tersenggol sikut mereka, bahkan hampir jatuh. Sayup – sayup terdengar percakapan mereka.

“hei, bisakah kalian berhenti mengikutiku?” omel seorang Namja

“ah… Minho! Kami kan masih terpesona olehmu” sahut seorang gadis yang di ikuti dengan sahutan lainya

“tapi aku merasa terganggu kalau kalian mengikutiku terus”

“MIANHAEYO~!” segerombolan yeoja itu membentuk KOOR dadakan

“kami tidak akan mengikutimu lagi jika kau memiliki yeojachingu”

“tapi Minho kan tidak punya yeoja chingu”

“ya udah… pilih aja salah satu dari kita”

“huuu~! Itu sih maumu” terdengar suara yang semakin ribut dalam gerombolan itu.

“tinggal sedikit lagi” gumanku dalam hati. Aku pun mengambil ancang – ancang untuk menyingkirkan yeoja terakhir yang menghalangi jalanku.

Saat aku hendak menyentuh tangan gadis itu, tiba tiba seseorang menggenggam pergelangan tanganku. aku merasa diriku seperti di seret, dan benar saja aku di tarik ke tengah kerumunan itu lagi. Aishh, masa aku harus melawan raksasa itu lagi?

Belum sempat aku melihat siapa manusia – laknat – yang menarik ku tadi, tiba tiba saja seseorang merangkul pundakku erat. Aku tersentak kaget dan langsung menatap tajam si empunya tangan dengan tatapan yang artinya sedang-apa-kau-?-apa-maksud-semua-ini-? Dan dia pun membalas tatapanku dengan tatapan yang artinya –sudah-kau-diam-saja-!

Aku mendecak sebal. Namja itu menatap gadis di sekelilingnya dengan senyum sumringah.

“siapa bilang aku tak punya yeojachingu?” sahutnya tiba tiba dan sukses membuat yeoja yang sedang berkasak kusuk itu terdiam.

“She’s my girl friend…” dengan lirikan kilat dia membaca name tag di baju seragamku “… and her name’s Cho Minhye. Lihatlah betapa cocoknya kami, nama kami saja mirip, Choi Minho dan Cho Minhye. Semoga kami jodoh ya” cowok bernama Minho itu tertawa renyah di akhir kalimat. Sedangkan aku? Tercengang cengang mendengar kata katanya.

Hah? Apa dia bilang? Aku ini pacarnya? Aku saja tak mengenalnya!.

Sahutan sahutan bergemuruh di sekitarku.

“andwae! yang benar saja? Sejak kapan?”

“tidak mungkin! Seorang Choi Minho berpacaran dengan yeoja kutu buku ini?”

“ya ampun, ini sih timpang sebelah”

“Stop! Kalau kalian tak percaya, aku akan membuktikanya” tiba tiba ia menumpukan kedua tanganya di pundakku. Kelopak mataku melebar,  Aku seperti di setrum listrik beribu ribu mega watt saat Minho tiba tiba menciumku. Setruman itu seperti mengaduk aduk isi kepalaku dan membuatku tak bisa berfikir jernih.

Aku mematung, tak peduli dengan semburat merah yang terlukis di pipiku dan ekspresi kaget yang tergambar di wajah gadis gadis itu. yang ku pedulikan adalah penjelasan dari semua ini!

“Minho-ssi! Ini tak mungkin! bagaimana bisa kau berpacaran dengan cewek terpendek di sekolah ini sedangkan kau adalah cowok tertinggi dan popular?”

“diam kau! Sekali lagi ku dengar ada yang menjelek jelekan dia, akan berurusan dengan ku” Ucap dio dengan mimik serius, tanpa aba aba segerombolan cewek itu membubarkan diri.

10 menit berlalu tapi aku dan dia masih mematung di depan pintu cafetaria yang sudah sepi karena sebagian besar murid sudah kembali ke kelas masing masing. Aku masih tak percaya dengan apa yang di lakukanya di depaan banyak orang tadi.

“kau tidak kembali ke kelas?” tanyanya tiba tiba.

“percuma, kau akan mendapatiku sedang lompat sadako jika aku kembali ke kelas sekarang”

“hahaha . . . pasti jam pelajaranya Miss. Betty” dia tertawa enteng

Aku menatapnya tajam. Kenapa dia enteng sekali setelah kejadian tak terduga yang di sutradarainya tadi?

“aku tau, kau pasti marah karena kejadian tadi” dia menghela nafas “maafkan aku, aku terpaksa begini karena aku muak terus terusan di ikuti dengan gadis gadis itu”

“tapi kenapa harus aku yang menjadi tokoh dalam skenariomu” ucapku agak keras dengan tatapan dingin

“jeongmal mianhae, aku terpaksa. Tapi mau kah kau menjadi pacar pura puraku? Ku mohon untuk beberapa hari saja”

“tapi aku ini pendek, beda sekali dengan dirimu yang tinggi dan perbedaan ini sangat mencolok” kataku sambil memperhatikan tinggi ku dan tingginya, ya ampun, ternyata aku hanya se-dada-nya saja.

“tapi Cuma kau yang tidak berlebihan terhadapku. Ayolah, ku mohon” katanya dengan tatapan memelas. Sial! Aku paling tidak tega di tatapi seperti itu

Aku menghela nafas “baiklah tapi hanya beberapa hari saja ya”

“iya aku janji”

Janji hanyalah sebuah janji, dan nyatanya dia ingkar janji. Sudah beberapa hari bahkan beberapa bulan aku menjadi tokoh dalam skenarionya. Dan sialnya, dia seperti remote control yang dapat mengendalikanku kapan saja

–Flashback_end—

Mataku tertuju pada seorang cowok yang sepertinya sedang bosan karena sejak tadi ia hanya memainkan jari nya di bibir cangkir berwarna putih susu di depanya. Aku melangkah ringan ke arahnya, berharap agar dia tak menyadari suara langkahku.

“TARAAA~ saengil chukha Lee Taemin ucapku sambil menyerahkan sebuah kado hijau berpita merah padanya.

Taemin tenyum sumringah sambil menyambut kado yang aku serahkan

“gomawoyo Minhye. Kau memang sepupuku yang paling baik” katanya sambil terkekeh

“ohh . . kalau ada kadonya aku di bilang baik? Yang dulu bagaimana?”

“ahh….entah kenapa aku amnesia sekarang” katanya sok serius, aku pun mencibir pelan

“apa harapan di umurmu yang ke 16 ini?”

“ehmm . . apaya? Punya yeojacingu baru mungkin” ucapnya lalu terkekeh

“huuu~! Dasar ! pacaran terus yang ada di pikiranmu!”

“ehh . . ngomong ngomong apa kau sudah punya pacar?”

Aku terdiam, tiba tiba bayangan Minho terlintas di benakku. Aku mengangkat kecil bahuku “ahh . . dia kan bukan siapa siapa ku” kataku dalam hati

“tidak, aku tidak punya” jawabku sambil menggeleng

“teman dekat?”

“tidak juga”

“lalu, siapa orang yang di katakan sebagai namjachingu mu itu?”

“ohh . . dia Choi Minho, dia bukan siapa siapa ku. Teman bukan, apalagi pacar. Lagi pula mana mungkin aku menyukai orang seperti dia” ucapku spontan. Tapi, entah kenapa aku merasa tak enak dengan kata kataku tadi apalagi di akhir kalimat.

Apa kata kata itu terlalu menusuk? Ya sutralah, toh ia tidak mungkin mendengar.

Aku melanjutkan percakapanku dengan Taemin tentang ulang tahunya dan hal hal ringan lainya. Sesekali aku dibuatnya tertawa lepas karena lelucon menggelitik yang di keluarkanya.

Tiba tiba Taemin menggenggam tangan kananku lalu mengecupnya. Mata teduhnya menatapku lembut seperti aliran air yang mengalir tenang.

“Cho Minhye… mau kah kau menjadi yeojachingu ku?”

Uhuk . . uhuk . . aku seperti tersedak. Bagaimana mungkin sepupuku itu menyatakan cintanya padaku! Apa dia sudah gila?

“hahaha” Taemin tertawa sambil megusap puncak kepalaku “aku hanya mengerjaimu”

“astaga Taemin! Kau membuatku spot jantung”

“haha maaf, tadi aku hanya latihan untuk menyatakan cinta pada… jiyeon”

“kau ingin menyatakan cintamu pada park jiyeon teman les mu itu?” tanyaku heboh. Taemin hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tak terasa gatal

“good luck ya” kataku sembari tersenyum

“sudah jam 9 malam. Kajja, mari kita pulang” ajaknya sambil bangkit berdiri dan akupun mengikutinya.

Aku berjalan mensejajari langkah Taemin. saat hendak ku langkahkan kakiku ke pintu keluar, sayup sayut terdengar suara seseorang memanggil namaku. Aku pun membalikkan badan, seketika itu pula seorang namja menghampiriku.

“kau Cho Minhye yeojachingu-nya Minho kan?” tanyany dan –dengan terpaksa- aku mengangguk.

“apa kau tahu dia dimana? Katanya dia mau menghampirimu di sini”

“apa? Aku tidak bertemu dia disini”

“tapi dia bilang… ahh, sudahlah” Namja itu mengibaskan tanganya dan berlalu pergi. Aku mengangkat bahu, tidak mengerti apa maksud namja tadi. Ya sudahlah.

~*~

Aku menuntun kakiku melangkah di koridor. Setelah ku amati sekelilingku, aku berjalan ke sebelah kiri menyusuri lorong lorong kelas yang sudah terlihat ramai.

“Tunggu dulu? ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menatapku seperti itu?” aku bertanya tanya dalam hati. Heran dengan tatapan sinis yang mereka sepertinya mereka tujukan kepadaku.

“dasar yeoja pendek tak tahu diri!” aku tersentak mendengar celetukan itu. ada apa dengan mereka?

Aku mempercepat langkahku, di depan perpustakan terlihat segerombolan orang memadati papan pegumuman. Aku pun mengerutkan dahi pertanda heran.

“hei! Si pendek datang” seru seseorang, sejurus kemudian sepasang mata manusia yang memadati papan pengumuman itu tertuju padaku. Tiba tiba tatapan sinis dan cibiran menghujamku.

“Sini kau!” seseorang menarikku ke depan papan pengumuman. Aku tercengang menatap foto foto diriku yang terpajang rapi di papan pengumuman itu. kalau saja itu foto diriku yang sedang sendirian, aku tak akan sekaget ini. Tapi ini foto ku bersama Taemin kemarin. Di foto itu kami terlihat mesra di mana salah satu foto bergambar Taemin yang sedang mengecup punggung lenganku.

“dasar yeoja tidak tau diri, beraninya kau berselingkuh!” Seru seorang cewek

“dia tidak pernah menyelingkuhiku” tiba tiba terdengar suara seorang namja, aku pun berbalik menatapnya yang ternyata adalah Minho.

“dia bukan siapa siapa ku. Teman bukan, apalagi pacar. mana mungkin aku menyukai orang seperti dia” kata kata itu terlontar dari mulut Minho. Aku terbelalak, astaga! Itu kan kata kataku, Jadi kemarin…

Minho berjalan pergi, tanpa ku perintahkan tiba tiba ragaku tergerak untuk mengejarnya. Karena langkah Minho yang panjang, aku pun terpaksa berlali kecil. Kalau tidak, kapan aku akan sampai?

Seakan sadar aku ikuti, Minho berhenti dan berbalik ke arahku.

“apa?” tanyanya ketus.

“ehmm “ aku gelagapan menjawab pertanyaan Minho “yang tadi itu…”

“sudahlah! Kau bukan siapa siapaku dan aku bukan siapa siapamu! Jangan pernah menggangguku lagi. Anggap saja kita tak pernah kenal” aku tersentak mendengar ucapan Minho. Itukah balasanya terhadap apa yang sudah ku lakukan untuknya selama ini?

Berbulan bulan berlalu sejak kejadian itu, sejak itu pula Minho berubah terhadapku. Setiap kami bertemu dia selalu memasang tampang dingin, dan setiap kami berpapasan dia seperti tak melihatku. Kenapa bisa seperti ini?

~*~

Malam ini udara sangat dingin, hembusan angin semakin lama semakin menusuk. Aku mempercepat langkahku memasuki sebuah taman dimana taman itu adalah jalan pintas menuju rumah.

Dalam keremangan cahaya lampu taman aku membaca secarik kertas yang isinya sangat penting bagiku. Karena kertas ini aku hampir di getok pake penggorengan sama chingu-ku, karena aku mengacaukan kamarnya hanya untuk menge-print isi kertas kertas ini.

Tiba tiba angin berhembus kencang dari sebelumya dan itu membuat kertasku melayang. Aku berusaha menggapainya, tapi karena kertas itu terbang terlalu tinggi, aku pun tak sampai.

“kertas kuuuu~!” panggil ku namun kertas itu tak berbalik (?) -3-

Dan akhirnya kertas itu mendarat tepat di jidat seorang namja yang tak lain dan tak bukan dan tak benar dan tak salah adalah seorang Choi Minho.

“tunggu dulu, ngapain dia disitu?” tanyaku dalam hati “ya suka suka dia lah, ini kan bukan jalan nenek moyang ku” aku menepok jidat. Pabbo gatteun! bisa bisanya aku berargumen tak jelas di saat genting seperti ini.

Aku bergidik melihat Minho yang sepertinya kesal dengan kertas itu, kenapa kertas itu harus mendarat di jidat raksasa seperti dia?!!!!!!!!!

Aku melangkah ragu sambil berkomat kamit memanjatkan doa, berhara agar tante sundel atau mbak kunti membawanya kealam baka, ke alam sutra juga boleh, ke alam Zombie lebih baik lagi.

“ehhmmm . . “ aku berdeham kecil di hadapanya, sejurus kemudian ia menoleh dan menatapku dingin

“bisakah aku meminta kertas itu?” tanyaku sambil menunjuk kertas yang di pegangnya

Minho menyatukan alis, tak lama kemudian ia mendekatkan kertas itu ke wajahnya dan membacanya.

“syarat syarat menerbitkan novel di KiloGramedia” ia membaca kalimat dengan huruf berukuran paling besar di kata itu “kau ingin menerbitkan novel?” tanyanya aku mengangguk pelan.

“kau suka sastra?” tanyanya lagi dan aku mengangguk lagi

“bisakah kau membantuku?”

“apa?” tanyaku

“maukah kau membantuku membuat puisi ode dan elegi? Aku sudah 3 jam di sini, tapi satu kalimatpun belum aku temukan. Aku memang payah di bidang sastra”

“semua orang kan punya kelebihan masing masing” aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya lalu mengambil sebuah laptop di pangkuanya “sini aku bantu”

Jari jariku bermain lincah di atas keypad qwerty laptopnya. Setiap kalimat yang berhubungan dengan elegi dan ode yang keluar dari mulut Minho, ku kembangkan dengan bahasa sastra yang lebih sempurna.

Di tutupnya laptop menjadi akhir pembuatan puisi. Tak samapai sejam, puisi itu sudah tertulis indah dan tersimpan sempurna di my documents

“kamsahamnida. puisi mu bagus, kau memang berbakat dalam bisang sastra” ucapnya sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya. Setelah selesai ia pun beranjak dari duduknya

“sekali lagi jeongmal gomawoyo” katanya sembari tersenyum “kau tidak pulang?” tanyanya sambil beranjak dari duduknya

“aku masih mau di sini, kau duluan saja” kataku seraya tersenyum

“baiklah aku duluan ya, aku masih ada urusan. Nite, bye”

Dio pun pergi menapaki jalanan taman yang sudah sangat sepi itu dan aku hanya bisa menatap punggungnya dari jauh sampai ia berbelok di persimpangan. Aku tersenyum, berharap semoga kejadian ini pertanda bahwa perang dingin itu sudah berakhir dalam keadaan damai.

“Minhye” seruan seorang cowok membuyarkan lamunanku. Aku pun beranjak dan tiba tiba owok itu memelukku erat.

Aku tersentak pelan “kau kenapa Taemin?” tanyaku pada dia yang memelukku

“akhirnya aku berhasil menjadi kekasih Jiyeon! Dan kau adalah orang pertama yang ku beritahu soal ini” Taemin mempererat pelukanya. Aku pun membalas pelukan itu sambil menepuk nepuk punggungnya. Setidaknya tinggi badan seperti ini lah yang cocok denganku, bukan raksasa seperti Minho

“Chukhae” ucapku turut bahagia

Taemin melepas pelukanya lalu menggenggam pergelangan tangan ku.

“ ayo kita kerumahmu! Jiyeon sedang menunggu di sana dan kami ingin mengajakmu makan makan” katanya dengan senyum sumringah.

Aku meirik ke arah bangku taman “Kertasku? Astaga! Jangan jangan terbawa Minho!” kataku dalam hati. Aku tak menemukan apa apa di bangku taman itu, dan kali ini sepertinya aku harus merelakan kepergian kertas itu.

~*~

Aku melangkah menuju pintu keluar Cafetaria. Tepat di sebelah pintu itu, Minho dan pengagum – pengagumnya berjejer manis di meja Cafetaria sambil melahap camilan mereka.

Aku melirik ke arah Minho, berharap agar seulas senyum terukir di bibirnya ketika aku lewat nanti. Tanpa sengaja mata kami bertemu dan itu membuat speedometer aliran darahku meningkat tajam.

Jantungku berdebar keras saat ia melangkah ke arah. Tiba tiba Minho menarik pergelangan tanganku lalu membuka telapak tanganku.

“ini kertasmu kemarin” katanya sambil menempelkan kertas itu di pergelangan tanganku. “aku berharap kejadian itu tak pernah terulang” ucapnya ketus lalu kembali ke tempat duduknya

“kalian balikan?” tanya seorang gadis

“sudah ku bilang aku tak pernah berpacaran denganya. Mana mungkin aku menyukai gadis seperti dia”

“hah, sudah ku duga. Tak mungkin seorang Minho berpacaran dengan yeoja pendek ini. lalu bagai mana dengan kejadian di cafetaria waktu itu?”

“ itu hanya sebuah adegan dalam skenario. Dan sekarang kepingan adegan itu hancur seperti skenario gagal yang tak berguna”

Aku melangkah mendekatinya dengan bendungan air bening di pelupuk mataku.

“dan kenapa harus aku yang harus kau salahkan atas kegagalan skenariomu!” ucap ku keras. Sebelum aku meninggalkan Cafetaria itu, aku sempat menatap Minho dengan tatapan kecewa.

Sekeluarnya aku dari sana, bendungan air mataku sudah tak sanggup menahan air yang berebut keluar dan akhirnya bulir bulir air itu mengalir membentuk sebuah jalur di pipiku. Aku kecewa, aku benci padamu, Choi Minho!

~*~

Aku membuka jendela kamarku lalu ku hirup pelan udara sore yang lembab sehabis hujan tadi. Semilir angin yang menyusup di jendela menyapu pelan rambut panjangku yang tergerai. Sikutku bertumpu pada sisi bawah jendela, mataku tertuju pada panorama langit senja dengan matahari yang berpendar seperti kuning telur.

Aku tersenyum kecil melihat lukisan indah yang di sugukan sang Maha pencipta padaku. Sudah dua hari aku tidak sekolah karena kurang enak badan, dan mungkin itu karena kejadian yang membuatku kecewa itu.

“Minhye” seorang wanita memanggilku. Tak lama kemudia pintuku terbuka dan aku langsung menoleh ke arah wanita paruh baya yang ternyata adalah ibuku.

“chingu mu menunggu di depan, dia mau mengajakmu keluar”

“siapa?”

“entahlah, yang jelas dia seorang pria”

‘palingan itu Taemin’ kira ku dalam hati

Aku pun melangkah menuruni anak tangga menuju teras rumahku. Di Saat aku membuka pintu, di saat itu pula aku sadar bahwa aku tak berbakat jadi seorang peramal.

“Ya! Choi Minho!” pekik ku kaget.

Tiba tiba dia menggenggam tanganku. Tanganya terasa dingin.

“ikut aku” perintahnya namun aku memberontak

“kemana?”

“ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan mu” katanya dengan ekspresi yang sulit di artikan.

“enak sekali kau berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan padaku kemarin”

“jebal~, ikutlah aku”

Aku melengos, pasrah dengan tuntunan tanganya yang akan membawaku entah kemana. Diam diam aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku harus lemah di saat seperti ini?

Langkah kami terhenti di sebuah jembatan penghubung antara taman dan hutan pinus. Tak ada orang yang berlalu lalang pada waktu petang di jembatan itu.

Jembatan kayu coklat bercorak kuno itu menjadi saksi bisu bungkamnya kami sejak semburat oranye masih mengiasi awan dan sampai semburat itu menghilang termakan awan hitam pekat. Kini hanya bulan dan lampu tamanlah sebagai penerangan kami.

Dio menghela nafas lalu menyandarkan pundaknya di pegangan jembatan itu

“Mianhaeyo” bisiknya memulai pembicaraan

“mianhae atas sikap ke kanak kanakan ku selama ini”

Aku menghela nawas lalu membuang muka darinya “gampang sekali kau mengatakan maaf”

“kau tahu, sebenarnya aku cemburu dengan orang yang baru ku ketahui adalah sepupumu, Apalagi saat kau di peluknya” Minho mengerjapkan matanya, menarik nafas panjang lalu membuangnya “dan bodohnya aku baru sadar ternyata selama ini aku cemburu”

Aku terpaku mendengar pernyataan Minho. Benarkah itu? Minho menatapku lembut lalu menumpukan ke dua tangannya di pundakku.

“mulai sekarang, jika ada yang bertanya pada mu ‘apakah kau mempunyai pacar?’ kau harus menjawab ‘iya’” seulas senyum tulus mengiringi kata katanya.

“tapi aku tak punya pacar”

“mulai sekarang iya”

“maksudmu?”

“Cho Minhye, bersediakah kau menjadi ke kasihku? Maukah kau memaafkan ku dan membantuku melanjutkan skenario gagal dengan tinta baru yang kita miliki berdua?” tanyanya serius

Aku terkejut mendengar pernyataanya. Ingin rasanya aku meng-iya-kan pertanyaan tersebut tapi rentetan perbedaan melintas di jalur pikiranku

“tapi, ini tidak mungkin. aku mempunyai kekurangan yang sangat kontras dengan kelebihanmu. Semua orang pun tau tubuhku tidak cocok dengan mu yang tinggi semampai dan lagi pula…”

Ucapanku terhenti ketika jari telunjuk Dio menempel di bibirku yang seperti mengunciku untuk berbicara. Dia merengkuhku dan menengelamkan wajahku di dada bidangnya. Kau tahu? Ternyata dengan tinggi tubuhku ini membuatku mendapatkan posisi strategis dalam kehangatanya.

“maski kau hanya mempunyai 10% kelebihan dan 90% kekurangan sedangkan aku mempunyai 90% kelebihan dan 10% kekurangan, tapi dengan 10% kelebihanmu itu kau bisa menutupi 10% persen kekurangan yang aku miliki dan membuatku lebih sempurna”dio mengelus pelan rambutku

“manusia di ciptakan sepasang, diamana mereka bisa menutupi kekurangan masing masing dengan kelebihan pasanganya. Dan aku percaya Sebuah kekurangan tidak akan menjadi masalah jika kau tidak menganggapnya sebagai masalah”

“one more, I ask you a question. Do you want to my girlfriend?”

“yes, I do” aku mengangguk mantap, rona kebahagiaan terpancar jelas di wajahku. Sekarang aku tak lagi memikirkan kukurangan itu. aku hanya memikirkan bagaimana caranya menggoreskan tinta kasih kelebihanku untuk memperindah  lukisan kehidupan orang lain. Begitu juga dengan hidupku.

~*~

Sebuah kekurangan tidak akan menjadi masalah jika kau tidak menganggapnya sebagai masalah

THE END

Huaaaaaaaa… basi banget ya cerpen ini -___-

Sebenernya ini dah lama ku publish di facebook ku, tapi dalam bahasa indo dan castnya juga nama indo. Jadi aku ganti, tapi gini deh hasilnya….

INI FANFICT UDAH LAMA BANGET, SEKITAR SETAHUN LALU MANGKANYA BAHASANYA AMBURADUL HEHE

Comment and like sangat di harapkan sebagai tanda kalian membaca cerita ini. Sankyuuu~!

Advertisements

8 thoughts on “ONESHOOT: I’m (not) Perfect

  1. aaaaghh,,FF ny keren..!! 😀
    dan setuju bgt dgn prnyataan kalo “Sebuah kekurangan tidak akan menjadi masalah jika kau tidak menganggapnya sebagai masalah”…

Comments are closed.